Herman Hanfi

METRO CIKARANG – Pendapatan asli daerah (PAD) sektor pajak dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) di Kabupaten Bekasi, alami penurunan akibat bisnis properti yang lesu karena dihantam pandemi COVID-19. Namun begitu, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Bekasi tetap optimis di sisa waktu tahun 2020 ini.

Kepala Bapenda Kabupaten Bekasi Herman Hanapi mengatakan lesunya penjualan properti bisa dilihat dari capaian pendapatan. Hingga akhir triwulan ketiga, pendapatan dari BPHTB yang terealisasi baru Rp60 miliar.

“Target BPHTB Rp750 miliar. Jadi bisa dilihat dari capaian itu, bagaimana lesunya penjualan properti sekarang ini,” katan dia, kemarin.

Herman melanjutkan proses jual beli tanah dan bangunan menjadi PAD Kabupaten Bekasi yang targetnya cukup besar. Karena menurut dia, Kabupaten Bekasi banyak pengusaha properti yang membangun perumahan.

“Makin banyak pembangunan perumahan, ya di situ pemasukan buat kita,” ucapnya.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya atau sebelum pandemi Covid-19, realisasi pendapatan pajak dari sektor BPHTB relatif tinggi. Di tahun 2018 saja, realisasi pendapatannya mencapai Rp713 miliar dari target Rp673 miliar sedangkan pada 2019 mencapai Rp700 miliar.

“Kalau ada kegiatan (transaksi properti) berarti ada BPHTB. Ya perolehannya dari jual beli tanah pengembang ke konsumen,” katanya.

Herman mengaku beberapa waktu lalu ada pengusaha properti yang ingin membangun di Cikarang Pusat namun tertunda sehingga Pemkab Bekasi urung mendapatkan pemasukan dari sektor pajak.

“Kemarin kan AEON mau dibangun. Tapi kan belum ada. Tunggu rencananya Maret proses jual belinya. Mudah-mudahan ya tahun berikutnya dia masih punya keinginan bangun di sini. Ya itu tabungan buat kita. Jadi ya, memang pandemi COVID-19 ini sangat berdampak,” ungkapnya.

Herman menyebut hingga saat ini penyumbang terbanyak pendapatan daerah dari sektor pajak diraih sektor pajak air bawah tanah yang sudah mencapai 134 persen dari target sedangkan pendapatan dari pajak reklame masih di kisaran 70 persen.

“Pajak air bawah tanah sudah lebih dari 100 persen. Tahun berikutnya kita evaluasi dengan Karawang. Kalau rate kita sudah lebih tinggi, ya kita naikin lagi secara bertahap,” tukas dia.

(Haripan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here