Oleh Hayatullah

HALO pembaca setia Metro Muda. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saat bertemu dengan sahabat pena Pers Mahasiswa (Persma) UIN Raden Intan Lampung, Minggu (16/3).

Kunjungan kali ini merupakan program Persma yang  dahulu dikenal sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Penerbitan Mahasiswa (UKM-LPM) RI Lampung dengan para alumninya. 

Ya, saya sendiri merupakan jebolan UKM LPM RI Lampung yang masih concern di media. Dari mengawali karir sebagai wartawan magang hingga tetap di Radar Lampung, lalu pindah ke Jakarta dengan berkarya di Radar Pena dan Jawa Pos.com serta Sukabumi Ekspres dan sekarang di Karawang Bekasi Ekspres dan Onlinemetro.id.

Selain saya, ada para pemimpin umum dan pemimpin redaksi yang turut hadir. Seperti Silmi, Ramdan, Adi Setiadi, Rozali Bangsawan. Tak lupa, pembina Persma Hervin Yoki Pradikta yang juga pernah berkarya di pers kampus ini.

Kedatangan kami disambut Pimum baru Abimayu Firmansah dan Pemred Destria. Dalam kesempatan itu, saya menceritakan pers kampus selalu vokal dalam mengkritisi berbagai hal menyangkut kehidupan kampus. Namun begitu, kondisi saat ini pers kampus agak sedikit redup.

“Kenapa bisa redup, apakah pena kita kurang tajam atau kurang hitam,”

Setelah berdiskusi ternyata pers kampus masih dibayang-bayangi sehingga terbitannya pun sedikit merosot. Kegiatan akademis yang padat berdampak pada kurang maksimalnya kegiatan persma. Ditambah dana operasional yang minim membuat persma semakin sulit berkembang.

Ya, kita ketahui bersama bahwa persma punya tiga produk yaitu koran raden intan, renaissance dan fabula. Tentu masing-masing punya karakter yang diinginkan pembaca. 

“Nah kok hanya ada cetakan fabula dan bentuknya pun antara renaissance dan koran raden intan. Padahal, fabula itu produk info bulanan yang dicetak berbentuk selembaran,”

Meski begitu, saya mengapresiasi atas semangat sahabat pena yang telah memproduksi platform baru yaitu web persma. Ini sejalan dengan era digital yang semua serba cepat.

Lagi-lagi problem baru muncul, web persma teryata masih dibawah naungan Humas UIN Raden Intan Lampung. Otomatis berita yang memuat kritikan soal kampus langsung ter-delet. 

Lantas, apakah pers mahasiswa masih dibutuhkan, sementara fungsi media sebagai kontrol sosial tak difungsikan?. 

Saya menilai dengan prinsip independen yang terus dipegang teguh oleh pers mahasiswa membuatnya terus dibutuhkan untuk menyajikan informasi secara mendalam dan berimbang. 

Apalagi si tengah-tengah konglomerasi media saat ini, pers mahasiswa menjadi alternatif lain sebagai tempat merujuk informasi yang lebih objektif. Hal ini terkait dengan tujuan dari pers mahasiswa yang tidak berorientasi kepada keuntungan ekonomi semata sehingga harapannya tidak mudah terintervensi oleh kepentingan lain.

“Kritik harus tapi berimbang. Istilah kami cover both side. Dan sekarang ini memang era jurnalistik postif lahir, di mana kita lakukan kritik dengan cara membangun. Misal gedung perpustakaan tidak representaif, minta pejabat terkait atau pustakawan untuk solusinya. Sehingga ada win-win solition,”

Obrolan pun kian hangat dengan ditemani kopi hitam dan petis party yang disuguhkan panitia di Sekret Persma. Keluhan yang saya terima seperti birokrat kampus yang enggan diwancarai hingga ancaman kerap diterima.

Tak hanya itu keterbukaan informasi yang notabene hak masyarakat dan dijamin konstitusi juga belum sepenuhnya terlaksana. Padahal keterbukaan informasi adalah amanat UU juga menunjukkan kondisi suatu instansi/lembaga telah maju dan berkembang. 

Disisi lain, para alumni persma juga memberikan  masukan agar pengurus baru lebih semangat menjadikan tulis menulis sebagai hobi. Bukan profit tapi ketika sudah jadi hobi maka profit akan datang sendirinya. 

Tetap Berpikir Merdeka!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here