METRO CIKARANG  -Spanduk penolakan praktik ilegal pengupasan tanah untuk urukan dikecam warga Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Itu terlihat dari spanduk yang terpasang di Gapura Ontel, Jalan Cisaat. 

Dua spanduk itu bertuliskan “Kami Menolak Galian Tanah”, dan “Pejabat Melek”. Spanduk putih bertuliskan huruf merah itu terbentang, dan dapat dilihat oleh setiap orang yang melintas. 

Salah seorang warga Desa Kertarahayu yang enggan menyebutkan nama, menjelaskan, kemarin  spanduk itu belum ada. Tetapi, saat pagi hari, dia melihat spanduk itu sudah terpasang. 

“Kemarin gak ada. Saya lewat terakhir sore. Pas pagi lewat lagi udah ada,” ucap dia. 

Dia mengiyakan jika ada praktik penggalian atau pengupasan tanah yang diduga ilegal di desanya. 

“Ada, Pak. Udah lama sih. Cuma sempat berhenti sebelum pas bulan puasa kalau gak salah,” ucap dia. 

Dia secara pribadi juga menolak ada praktik  tersebut di desanya. 

“Saya sendiri gak setuju, itu ngerusak lingkungan menurut saya. Kalau truknya udah lewat berderet-deret, Bang. Debu ke mana-mana, jalan pada rusak. Mending gak usah ada deh galian kaya gini,” katanya. 

Tanah urukan itu, sepengetahuannya, untuk memenuhi kebutuhkan urukan tol atau proyek perumahan. 

“Kita nyebutnya galian C. Warga sini sama desa sebelah udah pada tau,” ucapnya.

Berdasarkan penggolongan, bahan galian C adalah bahan galian yang tidak termasuk dalam golongan A dan B. Bahan galian C meliputi tanah uruk, tanah liat, pasir, dan lainnya.

Desa Kertarahayu ditetapkan sebagai Desa Wisata oleh Pemkab Bekasi karena keasriannya. Desa ini diketahui satu-satunya yang belum terdapat satu pun perumahan.  Tiap akhir pekan, ratusan pesepeda menjadikan desa ini sebagai destinasi gowes, terutama di titik Sasak Mare. (dim/uzi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here