METRO CIKARANG – Pembuangan sampah medis di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng  Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi dan TPA Sumur Batu Kota Bekasi, sampai ke telinga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo.

Doni pun berencana membentuk satuan baru di bawah naungan Gugus Tugas. Satuan itu akan khusus menangani pengendalian limbah medis terkait korona.

Pria yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu menyebut pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Masalah limbah, Gugus Tugas telah bekerja sama dengan KLHK dan telah membuka atau menambah satu bidang yaitu pengendalian limbah B3 dalam organisasi Gugus Tugas,” tutur Doni.

Sebelumnya, limbah medis bekas penanganan pasien terkait Covid-19 ditemukan dibuang di tempat pembuangan akhir ( TPA) Sumurbatu, Kota Bekasi, dan TPA Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Temuan tersebut berdasarkan observasi dan investigasi mulai tanggal 1 hingga 23 Juni 2020 oleh Koalisi Persampahan Nasional. 

Ketua Koalisi Persampahan Nasional (Kpnas) Bagong Suyoto mengatakan, limbah medis yang ditemukan jumlahnya cukup banyak yakni, masker, sarung tangan, dan tisu.

“Limbah medis tersebut sudah dicampur dengan plastik, kertas, karung, busa, ranting dan daun, kayu. Fakta itu diduga kuat limbah medis berasal dari rumah sakit, klinik kesehatan maupun puskesmas,” kata Bagong.

 Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengakui Kota Bekasi tidak memiliki tempat pengolahan kategorial limbah beracun dan berbahaya (B3) tersendiri.

 Kata pria yang akrab disapa Pepen itu, Pemerintah Kota Bekasi telah bekerja sama dengan pihak ketiga di kawasan Karawang untuk mengolah limbah B3. Yakni, Jasa Medivest yang merupakan BUMD Pemprov Jawa Barat yang mengelola limbah medis di Dawuan, Kabupaten Karawang.

“Kita enggak ada (pengolahan limbah B3), tetapi kita kerja sama dengan salah satu pengelola pembakaran itu di Karawang, kalau enggak salah. Kita ada dulu di rumah sakit, tapi sudah tidak jalan,” ucap dia.

Meski demikian, ia mengatakan, pihak Pemkot telah rutin mengawasi limbah medis di rumah sakit, klinik, hingga puskesmas.

“Ya seharusnya sudah berjalan normal (pengawasan) sesuai standar-standar yang seharusnya menjadi kewajiban. Apalagi yang sudah berimplikasi nanti terhadap sebuah penyebaran, seperti B3 itu, itu seharusnya rutin dikoordinir fungsi-fungsi pengawasannya supaya tidak terjadi kekhawatiran-kekhawatiran,” tuturnya. (jio/hyt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here