ilustrasi

METRO CIKARANG -Inspeksi mendadak (sidak) wakil gubernur Jawa Barat pada 15 Juli 2020 tak menggetarkan pelaku galian ilegal di Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu. Selain segel galian tanah di Ciloa dirusak serta 2 ekskavator barang bukti raib, galian pasir di belahan lain desa itu masih beroperasi.

Berdasarkan informasi warga setempat, hingga Jumat (24/7/2020), galian pasir masih berlangsung di Kampung Nawit. Truk-truk berseliweran mengangkut pasir bahkan melewati kantor Desa Kertarahayu.

Di lokasi galian pasir terdapat satu unit ekskavator dan juga pengayak pasir. Pasir itu diambil dengan cara disedot dari dalam tanah dengan alat. Terlihat sejumlah orang berjaga di bedeng.

Galian itu terletak di dekat area persawahan yang jauh dari jalan utama.

Ketua Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Kertarahayu, Dedi, menjelaskan galian tersebut harus ditutup sesuai amanat wakil gubernur Jawa Barat.

“Untuk galian pasir, dari aparat berwenang memang belum ada peringatan dan teguran tertulis. Itu yang membuat mereka masih beroperasi galian pasir,” kata dia.

Dia meminta aparat berwenang segera menutup galian di desa wisata tersebut, karena saat sidak tersebut Wakil Gubernur Uu Ruzhanul Ulum menyuruh galian pasir itu juga ditutup.

“Saya minta Pak Kadis untuk menutup semua galian yang tak punya izin di wilayah Jabar, tidak hanya di Bekasi. Ini karena Pak Gubernur memerintahkan langsung kepada saya, dan Pak Gubernur diperintahkan Pak Jokowi. Saya meneruskan,” ucap Uu sewaktu sidak 15 Juli 2020 di Galian Ciloa, Kertarahayu.(dim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here