Sekdin Satpol PP Kabupaten Bekasi, Deni Mulyadi. (foto kiri)

Kesadaran Masyarakat Terhadap Prokes Tidak Merata

METRO CIKARANG – Kasus Covid-19 di Kabupaten Bekasi hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda melandai, bahkan lajunya terus bertambah hingga klaster keluarga.

Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kabupaten Bekasi Deni Mulyadi mengungkapkan, masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan (Prokes) Covid-19.

“Kalau kita lihat di lapangan ada yang patuh,ada yang tidak. Bahkan banyak pula yang acuh, cuek terhadap Prokes,” kata Deni kepada Cikarang Ekspres (2/2/21).

“Perlu adanya kerjasama antara pemerintah dengan masyarakatnya bahwa virus itu sangat berbahaya,” sambung dia.

Bahkan, sejak di perpanjang PPKM hingga 8 Februari mendatang, Satpol-PP, Polisi, TNI dan Unsur Forkopimda terus gencar lakukan operasi yustisi.

“Kita Satpol-PP sudah all out, siang malam kita lakukan operasi penegakan Prokes, kita imbau terus dengan jajaran yang lainnya juga,” tandasnya. 

Sebelumnya, Kasus psitif korona atau covid-19 di Kecamatan Cikarang Selatan mengalami kenaikan signifikan, hal itu  imbas terjadinya klaster keluaraga.

Menanggapi hal itu, saat di konfirmasi melalui pesan watshap kepala UPTD Peukesmas Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, dr. Adi Pranaya mengatakan, klaster keluarga itu tidak akan terjadi jika memang kondisi dimana swab yang positif tersebut dapat menjaga prokes meski isolasi mandiri (isoman) di rumah, namun rumah setiap penderita itu jumlah penghuninya tidak sama.

“ Sehingga kalau kita menyamaratakan klaster keluarga adalah dikaranakan faktor tinggal di rumah, ketika isoman positif itu juga tidak sepenuhnya benar. Karena bagaimanapun yang isoman kita bisa menjaga jarak,” kata dr Adi, Minggu (24/1/21).

Oleh kerena itu, kami tetap berupaya bagi swab positif dengan kondisi isoman yang tidak optimal , contohnya dalam satu rumah yang tidak terlalu luas dan juga banyak penghuninya  maka kami berupaya isolasi yang swab positif ini di bawa ke Bapelkes.

“Jadi jangan sampai klaster keluarga ini jangan sampai klaster keluarga ini semata-mata karena isoman di rumah. Ini semua juga dikarenakan adalah kepedulian dari kita bersama semuanya,” ujarnya.

“ Jadi yang pertama adalah pastikan prokes kesetahan 3M di rumah ketika swabnya isolasi mandiri di rumah,” sambungnya.

Selain itu, sesuai dengan rekomendasi bahwa sosialisasi berkaitan dengan  ABG yaitu  Advokasi  Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan  Masyarakat. 

“Advokasi artinya kita menginfokan kembali Instruksi gubenur, peraturan bupati berkaitan dengan pembatasan aktifitas kegiatan untuk mencegah penularan covid-19 dengan pembatasan jam, WFH dan di perpanjangnya PPKM,” ungkapnya.

Selanjutnya, bina suasan adalah kita berupaya di tengah pandemi covid-19 ini khususnya di wilayah Puskesmas Sukadami yang relatif itu sangat tinggi untuk swab Positif, kontak erat, suspect dan sebagainya maka kami harus membuat susasana yang membuat masyarakat lebih peduli  juga lebih konsisten dalam menjaga  prokes baik , 3M,5M dan lain sebagainya.

Kemudian pemberdayaan, pemberdayaan ini kami melakukan upaya-upaya yaitu dengan cara fokus discussion grup, dimana dari pihak RT, RW siaga covid, sampai dengan kecamatan siaga covid,  dan juga desa siaga covid. 

 “Ini mensingkronisasi dengan program-program pemerintah yang lain seperti kampong atau desa tangguh yang juga bermaksud berupaya agar warga yang terpapar atau menderita swab positif  yang juga swabnya positif dan isolasi mandiri di rumah dapat terjaga kondisinya dengan kepeduliannya dari berbagai pihak,” paparnya.

Selain itu, Adi menjelakan, hingga saat ini pihaknya terus menerus melakukan wawar , informasikan yang tiada henti terhadap masyarakat agar tahu, bahwa orang-orang yang terkena swab positif  ini tidak sekedar gejalanya hilang penciuman dan sebagainya tetapi ada juga sampai meninggal, sampai konfilkasi dan sebagainya.

“Jadi biar mereka tahu, jangan sampai mereka mederita penyakit swab positif ini. Biasanya orang peduli jika ada indikasi, ada kondisi tertentu yang membuat dirinya terancam, dirinya menjadi penderita baru peduli,” kata dia.

Adi menambahkan, di Bulan Desember 2020 mencapai 300 swab positif dan kemudian kontak erat 200 an positif.  Jadi dalam satu bulan itu bisa lebih dari 500 orang . 

“Sekarang ini kami informasikan per tanggal 1 Januari  sampai dengan tanggal yaitu dimana ada kontak erat sebanyak kurang lebih 170 orang, setelah itu ada suspect 31 orang, kontak erat  208 orang yang kita swab,” imbuhnya.

“Jadi artinya kondisi ini bukan main-main, kita semua harus waspada, jangan taku kalau kita punya tetangga yang swabnya positif selama kita bisa menjaga jarak dan tetap memperhatikan kondisi fisik dan prokes,” tandasnya.

(mil/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here