Kepala UPTD Puskesmas Sukadami, Cikarang Selatan dr. Adi Pranaya.

METRO CIKARANG – Kasus positif korona atau covid-19 di Kecamatan Cikarang Selatan mengalami kenaikan signifikan, hal itu  imbas terjadinya klaster keluaraga.

Menanggapi hal itu, Kepala UPTD Puskesmas Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, dr. Adi Pranaya mengatakan, klaster keluarga itu tidak akan terjadi jika memang kondisi dimana yang positif dapat menjaga prokes meski isolasi mandiri (isoman) di rumah, namun rumah setiap penderita itu jumlah penghuninya tidak sama.

“Sehingga kalau kita menyamaratakan klaster keluarga adalah dikarenakan faktor tinggal di rumah. Ketika isoman positif itu juga tidak sepenuhnya benar. Karena bagaimana pun yang isoman kita bisa menjaga jarak,” kata dr Adi saat dihubungi melalui pesan singkat, Minggu (24/1/21).

Oleh kerena itu, pihaknya tetap berupaya bagi positif dengan kondisi isoman yang tidak optimal. Contohnya dalam satu rumah yang tidak terlalu luas dan juga banyak penghuninya, maka pihaknya berupaya isoman di bawa ke PU Kihajar Dewantara atau Bapelkes.

“Jadi jangan sampai klaster keluarga ini, semata-mata karena isoman di rumah. Ini semua juga dikarenakan adalah kepedulian dari kita bersama semuanya,” ujarnya.

“Jadi yang pertama adalah pastikan prokes kesehatan 3M di rumah ketika swabnya isoman di rumah,” sambungnya.

Selain itu, sesuai dengan rekomendasi bahwa sosialisasi berkaitan dengan Advokasi Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat.

 “Advokasi artinnya, kita menginfokan kembali Instruksi gubenur. Peraturan bupati berkaitan dengan pembatasan aktifitas kegiatan untuk mencegah penularan covid-19. Dengan pembatasan jam, WFH dan di perpanjangnya PPKM,” ungkapnya.

Selanjutnya, bina suasan adalah berupaya di tengah pandemi covid-19 ini khususnya di wilayah Puskesmas Sukadami. Yang relatif itu sangat tinggi untuk positif, kontak erat, suspect dan sebagainya.

Maka, pihaknya harus membuat susasana yang membuat masyarakat lebih peduli juga lebih konsisten dalam menjaga prokes baik, 3M, 5M dan lain sebagainya.

“Ini mensingkronisasi dengan program-program pemerintah yang lain seperti kampung atau desa tangguh. Agar warga yang terpapar atau menderita positif yang juga swabnya positif dan isolasi mandiri di rumah, dapat terjaga kondisinya dengan kepeduliannya dari berbagai pihak,” paparnya.

Adi menambahkan, di Bulan Desember 2020 mencapai 300 orang positif dan kemudian kontak erat 200 orang.  Jadi dalam satu bulan itu bisa lebih dari 500 orang. 

 “Sekarang ini kami informasikan per tanggal 1 Januari  sampai dengan tanggal yaitu dimana ada kontak erat sebanyak kurang lebih 170 orang. Setelah itu ada suspect 31 orang, kontak erat 208 orang yang kita swab,” imbuhnya.

“Jadi artinya kondisi ini bukan main-main, kita semua harus waspada, jangan taku kalau punya tetangga yang positif. Selama kita bisa menjaga jarak dan tetap memperhatikan kondisi fisik dan prokes,” tandasnya.

(mil/rie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here