ISTIMEWA

Dipotong Oknum RT sampai Rp 150 Ribu – Rp 200 Ribu

METRO CIKARANG – Warga Desa Burangkeng yang menjadi penerima uang kompensasi dampak tempat pembuangan sampah akhir (TPAS) mengeluh. Pasalnya, dalam pembagian kompensasi itu ada pemotongan mendadak setelah menerima uang itu secara tunai. 

Salah seorang warga Kampung Cinyosok yang enggan menyebut namanya menjelaskan seharusnya dia menerima Rp 600.000. Tetapi malah terkena potongan Rp150.000.

“Yang Rp 50 ribu buat biaya pembuatan rekening BJB, katanya. Terus yang Rp 50 ribu dipotong RT katanya untuk keamanan. Yang Rp 50 ribu lagi katanya untuk lingkungan dari pihak desa,” jelas dia. 

Rp 600 ribu yang dia terima adalah kompensasi periode Januari-Juni 2020. Tiap bulan 1.500 keluarga di Desa Burangkeng memeroleh Rp100 ribu per bulan sebagai kompensasi keberadaan TPAS Burangkeng.

Pada kompensasi periode Oktober-Desember 2019, dia mengakui belum ada potongan tersebut, melainkan biaya sukarela dari RT. Saat itu dia memberikan Rp20.000. Namun, uang kompensasi yang dia terima malah dipotong.

“Enggak saya doang, ada yang Rp 200 ribu malah dipotongnya. Katanya Rp 50 ribu buat kebersihan. Saya sampah bakar sendiri di belakang rumah. Selama ini gak ada biaya kaya gitu,” ucap dia.

“Terus Rp 50 ribu dari RT katanya untuk keamanan. Sejak covid-19 di sini rawan kriminal, kita ronda-ronda sendiri sama warga,” ucap dia.

Pemotongan itu, kata dia, tanpa kesepakatan dan pemberitahuan terlebih dahulu.

Warga lain yang juga tak ingin identitasnya terungkap juga mengakui ada pemotongan Rp 50 ribu untuk lingkungan.

Sepengetahuannya, pemotongan pada penerimaan sebelumnya juga ada Rp 50 ribu. Tapi setahu dia itu untuk 25 keluarga di Kampung Jati yang belum mendapat uang kompensasi.

“Pembukaan rekening itu dipungut langsung ke warga senilai Rp50 ribu. Di luar potongan Rp50 ribu (untuk lingkungan),” kata dia.

“Kalau memang benar ada tanggung jawab pemeliharaan lingkungan sih mungkin gak jadi masalah. Ini potongan itu tanpa kesepakatan warga. Hanya kesepakatan Tim 17,” sambungnya.

Tim 17 adalah tim bentukan kepala Desa Burangnkeng sebagai perwakilan aspirasi masyarakat. Tim itu terdiri atas 17 orang dari berbagai elemen masyarakat. Aksi mereka pada awal 2019 adalah penutupan TPAS Burangkeng selama 2 pekan.

Sekretaris Desa Burangkeng, Ali Gunawan, menjelaskan rencana pemotongan pada awalnya adalah pemeliharaan lingkungan dan ronda selama setahun.

“Namun untuk pencairan selanjutnya, dana tersebut, Rp50 ribu dipakai buat buka tabungan rekening. Selanjutnya kan non-tunai,” kata dia.

(dim/uzi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here