METRO BANDAR LAMPUNG – Direktur dan tiga Senior Executive Vice President (SEVP) PTPN VII yang baru dilantik pekan lalu menggelar rapat terbatas perdana dengan manajemen di Kantor Direksi, Kamis (4/6/20).

Empat petinggi BUMN Perkebunan itu adalah Doni P. Gandamihardja sebagai Direktur, Okta Kurniawan sebagai SEVP Business Supporting, Fauzi Omar sebagai SEVP Operation I, dan Dicky Tjahyono sebagai SEVP Operation II. Namun, pertemuan hanya dibatasi bagi para Kepala Bagian untuk menaati protokol kesehatan di masa pandemi.

Okta Kurniawan yang sebelumnya menjabat sebagai corporate secretary memandu diskusi. Dalam pengantarnya, Okta menyampaikan selamat datang di PTPN VII yang memiliki wilayah kerja di Lampung, Sumsel, dan Bengkulu kepada Doni P. Gandamihardja dan Fauzi Omar.

Diketahui, sebelum mendapat tugas di PTPN VII, Doni adalah Dirut PTPN XIV dan Fauzi Omar adalah General Manajer di PTPN IV. Sedangkan Dicky Tjahyono adalah “kader internal” dengan jabatan terakhir Manajer Unit Bekri.

Dalam paparannya, Doni P. Gandamihardja mengaku sudah mencari informasi secara maksimal tentang PTPN VII. Menurutnya, dari track recordnya, perusahaan yang mengusahakan karet, kelapa sawit, gula putih, dan teh ini memiliki catatan kejayaan yang membanggakan. Namun, kata dia, dalam beberapa tahun terakhir mengalami perlambatan kinerja yang membutuhkan perhatian besar.

Dari catatan-catatan itu, pria kelahiran Bandung, 19 September 1966 ini mengatakan, prospek untuk bangkit dan jaya kembali sangat besar.

Tidak bermaksud membandingkan, Doni mengatakan potensi dan resources yang ada di PTPN VII dinilai lebih mapan dibanding PTPN lain. Oleh karena itu, dia mengajak semua jajaran untuk membangkitkan kembali spirit dan energi baru untuk mencapai kejayaan.

Untuk membangun spirit itu, mantan Direktur Komersil PTPN XIII itu menekankan adanya visi dan gerak yang satu frekuensi dari semua jajaran. Sebab, kata dia, jika ada satu saja elemen dalam sistem yang tidak seirama, dipastikan perjalanan akan terjadi hambatan.

“Kita ini bekerja dalam satu sistem harus memliki visi yang sama. Visi itu tercermin dari budaya kerja yang selaras Dan keselarasan gerak itu akan menciptkan corporate culture yang menjadi warna dari perusahaan ini,” kata dia.

Dalam menjalankan manajemen, Doni mengajak semua insan PTPN VII untuk memaknai setiap tugas di perusahaan sebagai bagian dari ibadah. Sebagaimana orang beribadah, kata dia, dibutuhkan keikhlasan dan ketenangan batin.

“Kita ini bekerja untuk menghidupi keluarga. Dan mencari rezeki untuk keluarga adalah bagian dari ibadah. Dengan ibadah kita akan mendapatkan ketenangan lahir dan batin bersama keluarga. Dan, saya meyakini, jika kita mendapatkan rezekinya dengan cara yang tidak semestinya, hati kita tidak akan tenang,” kata dia.

Tentang masa depan PTPN VII, Doni menyatakan perusahaan ini mempunyai modal yang cukup untuk menjadi bench mark bagi perusahaan lain. Dalam banyak faktor, PTPN VII memiliki infrastruktur mapan.

“Saya yakin, kalau kita kompak di semua level dan semua langkah, PTPN VII segera bangkit,” kata direktur yang memulai karir di Bank Mandiri ini.

Sementara itu, pada level SEVP, jabatan setingkat direktur bidang, PTPN VII memilih opsi dua SEVP Operasional. SEVP I yang dijabat Fauzi Omar akan mengurus komoditas kelapa sawit dan teh. Sedangkan Dicky Tjahyono diberi tugas untuk mengurus komoditas karet dan tebu (gula putih).

Fauzi Omar dalam breifing perdananya mengaku sangat optimistis komoditas kelapa sawit di PTPN VII akan naik jika semua resources digenjot. SEVP yang berkarir dari karyawan pelaksana lapangan pada kebun kakao di PTPN IV mengatakan, semua operasional di kebun akan dijalankan secara detail.

“Saya melihat potensi di N7 (PTPN VII) sangat baik. Kita akan genjot untuk menaikkan produksi dengan melakukan treatmen secara detail. Kita harus bekerja ekstra keras atau extraordinary. Kita harus tahu persis berapa jumlah pokok (pohon) yang ada. Jadi, hitungan produksi, pupuk, dan biaya perawatannya juga tepat,” kata dia.

Di sisi lain, Dicky Tjahyono yang membidangi karet dan tebu menyatakan akan fokus untuk memastikan semua sumber daya yang ada bekerja dengan maksimal. Di komoditas karet, mantan Manajer Unit Bekri ini mengakui harga jual produknya masih menjadi kendala fundamental. Meskipun demikian, ia akan terus mengawal perbaikan seluruh proses produksi dari on farm sampai produk dipasarkan secara rigid.

“Untuk operasional produksi, saya lebih cenderung untuk melakukan cost effectiveness dari pada cost cutting. Sebab, sekali kita tidak pupuk tanaman, efek buruk dominonya akan sangat besar dan lama. Dan selama beberapa tahun ini kita sibuk memperbaiki kondisi itu akibat cutting cost itu,” kata dia.

Tentang industri gula, Dicky yang pernah menjadi Direktur Operasional PT Buma Cima Nusantara (BCN), anak perusahaan PTPN VII menyatakan optimistis pada musim giling 2020 ini akan lebih baik dari sebelumnya. Hal itu karena proses pemeliharaan tanaman dan perbaikan pabrik sudah berjalan dengan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Di bidang business support atau komersil, Okta Kurniawan sebagai SEVP menyatakan siap mendukung semua kebijakan bisnis perusahaan. Di bawah kendali seorang direktur, proses manajemen perusahaan akan dijalankan dengan sistem basis kinerja.

“Semua proses bisnis kita ke depan akan lebih dinamis karena berbasis kinerja. Kami akan sangat menghargai ide dan kreativitas dari seluruh karyawan untuk ikut menggerakkan perusahaan ini,” kata dia.

Rapat yang berlanjut hingga sore diwarnai dengan diskusi konstruktif pada semua bidang. Para kabag yang terlibat dalam diskusi itu tampak antusias untuk merumuskan format baru dan terbaik bagi kebangkitan PTPN VII.

(Hayat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here