METRO LAMPUNG UTARA – Hampir sebulan sejak buka musim giling PG Bungamayang mendapat perhatian dari PTPN Holding. Selama sepekan sejak Senin (3/8), Tim Inspektorat Komoditas Tebu dari PTPN Grup menginspeksi industri gula yang dikelola PTPN VII melalui anak perusahaannya, PT Buma Cima Nusantara (BCN).

Kepala Inspektorat Komoditas Tebu PTPN Grup Daniyanto hadir didampingi Mustaqim (Anggota), dan Angga Abiyanto (Kepala Sub Devisi Pengolahan Tebu) menggelar rapat bersama Direktur PTPN VII Doni P, Gandamihardja di Mess PG Bungamayang, Lampung Utara, Selesa (4/8).

Tampak hadir, Senior Executive Vice President (SEVP) Operation 2 Dicky Tjahyono, Direktur PT BCN Putu Sukarmen, dan beberapa Kepala Bagian PTPN VII, General Manajer PG Bungamayang, dan pejabat lain.

Menurut Dani, Holding Perkebunan memberi perhatian khusus kepada komoditas gula yang dikelola anak perusahaan. Lebih khusus, kata dia, PTPN VII yang mengelola dua pabrik gula dengan hampir semua lahan kebun milik sendiri.

“Kami memberi perhatian khusus kepada industri gula. Terlebih N7 (PTPN VII) yang dikelola PT BCN karena di sini lahan kebun tebunya cukup luas dan milik sendiri. Perhatian ini karena gula menjadi komoditas strategis yang memiliki siklus modal sangat ketat,” kata mantan Direktur Operasional PTPN XI ini.

Dani mengatakan, akhir Juli sampai Agustus di mana terjadi peralihan musim hujan ke musim panas menjadi golden periode (periode emas) untuk proses giling tebu. Istilah golden periode dipakai Dani untuk menegaskan bahwa potensi tebu yang digiling pada masa itu adalah yang terbaik dari sisi kualitas dan produktivitas.

“Jangan sampai pada golden periode ini kita kehilangan potensi. Ini saatnya kita mengejar produksi karena cuaca sudah mendukung untuk kelancaran tebang, muat, angkut (TMA). Ini juga saatnya mengejar rendemen terbaik. Kita pasang target rendemen 6,7 persen itu, menurut saya sangat konservatif. Kita harus berani optimistis lebih tinggi. Tentu dengan kerja keras,” jelas dia.

Pada inspeksi ini, Tim Inspektorat secara detail meninjau hampir semua proses on farm maupun off farm. Kunjungan itu juga dimanfaatkan Doni P. Gandamihardja untuk juga secara rigid memeriksa kondisi lapangan sekaligus memberi arahan kepada pelaksana.

Meski sedang fokus ke pelaksanaan giling, Doni menyempatkan mengecek pengolahan lahan untuk tanaman tebu baru (PC). Dibantu staf, Doni mengukur jarak antar bedengan, memastikan kedalaman bajakan tanah, dan memberi arahan tentang manajemen pengolahan lahan.

“Hasil akhir suatu produk itu bukan parsial atau segmented, melainkan simultan. Kita bisa mendapatkan produktivitas yang tinggi, rendemen maksimal, dan proses yang lancar harus dimulai dari awal sampai akhir. Di proses olah tanah inilah awalnya sampai kemudian digiling menjadi gula. Kalau dari awal sudah salah, ya akan sulit semua prosesnya,” kata Doni.

Meski sudah malam, tim juga langsung menuju pabrik yang sedang beroperasi. Mereka mengecek semua fasilitas dan performa mesin dengan kapasitas terpasang 7.000 TCD (ton cane per day, ton tebu per hari) itu.

Dalam laporannya, Direktur PT BCN Putu Sukarmen menyebutkan ada kendala power house di pabrik yang sedang berjalan. Dia mengakui, meski tetap bisa berjalan melakukan giling, dengan kendala kekurangan daya sekitar 500 KVA, kapasitas giling terpasang tidak dapat terpenuhi.

“Sudah diantisipasi sejak sebelum bukan giling dengan pengadaan power house. Tetapi setelah berjalan beberapa hari giling, ada kendala pada suplai ke gear box. Vendor sudah bekerja keras untuk memperbaiki, tetapi belum berhasil,” kata dia.

Kendala pada power yang dialami PG Bungamayang menjadi perhatian Tim Inpektorat PTPN Holding. Dani mengingatkan agar masalah kekurangan daya ini segera diatasi dengan cepat. Sebab, kata dia, musim giling yang terlambat akan berimbas kepada hasil secara keseluruhan.

“Kami dari Holding akan mendampingi bapak-ibu semua dalam mengatasi masalah kekurangan daya ini. Ini sangat urgen dan harus segera diatasi. Jika tidak, kita akan banyak kehilangan momen mencapai produksi terbaik,” kata dia.

Selain ke Bungamayang, Tim juga akan lanjut menginspeksi PG Cintamanis di Ogan Ilir, Sumsel. Selain teknis on farm dan off farm, tim juga memperhatikan tentang infrastruktur seperti lebung (embung penyimpan air), jalan produksi, menara pantau, hingga sarana pemadam kebakaran.

(Hayat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here